Feeds:
Posts
Comments

Sebagian peserta diskusi adalah ibu-ibu yang punya insting wartawan!


Untuk mengabarkan sebuah peristiwa, opini, atau kritik, kini tidak lagi menjadi wilayah kekuasaan para wartawan, atau media main stream, seperti Radio, Koran, Majalah, dan TV.  Warga biasa, kini juga punya hak dan kesempatan yang sama untuk melakukan itu. Istilah populernya adalah Citizen Journalisme, warga biasa yang menjadi wartawan.

Dalam era digital abad ini, kanal informasi telah terbuka luas. Warga biasa dapat menggunakan platform media seperti Facebook, Twitter, Blog, TV Komunitas, Radio Komunitas, atau Koran Komunitas, dalam mengabarkan berita atau menyampaikan pendapat. Dengan maraknya fenomena ini, maka persoalan berikutnya adalah seberapa jauh warga bisa secara bebas mengemukakan pendapatnya? Rambu-rambu apa yang harus dimiliki agar kebebasan itu tidak kebablasan, khususnya untuk warga muslim?

Pada hari Ahad, 25 September 2011, bertempat di Masjid Al-Fath, di dalam kompleks Perumahan Vila Nusa Indah 3, digelar sebuah diskusi jurnalistik, membicarakan persoalan fiqih ikhtilaf tentang bagaimana membuat dan mengkritik berita menurut Islam. Diskusi itu disampaikan oleh narasumber Ustadz Aceng Muaz. Pada sesi berikutnya langsung disambung dengan paparan materi tentang jurnalisme warga, yang disampaikan oleh Wahyu Utomo, redaktur ekonomi Harian Jurnal Nasional. Diskusi berlangsung meriah, dengan moderator Hartono Rakiman. Acara yang berlangsung sejak pukul 09.30 pagi dan berakhir usai shalat dhuhur ini, dibuka oleh DTM Al-Fath, Bambang Widuri.

Inti dari diskusi itu adalah bahwa memberikan kritik itu dalam perspektif Islam adalah dalam rangka menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Tinggal caranya dalam menyampaikan kritik, apakah secara tertutup atau terbuka, alias terang-terangan. Ada 5 prinsip utama dalam menyampaikan kritik, yaitu bebas dan bertanggung jawab, jujur, adil, tidak memihak, keakuratan informasi, dan kritik konstruktif. Apa yang disampaikan oleh Ustadz Aceng Muaz dapat dijadikan landasan oleh umat Islam dalam menyampaiakn kritik. Sementara itu, paparan dari nara sumber kedua, yang juga redaktur harian Jurnal Nasional memberikan tips-tips jitu dalam membuat reportase dan menulis.

Diskusi ini masih perlu dilanjutkan dengan seri diskusi lanjutan berupa Teknik Reportase dan Teknik Menulis, yang rencananya akan dilaksanakan secara berturut-turut pada tanggal 16 Oktober, 20 November dan 18 Desember 2011.

Kini, Masjid Al Fath juga telah memiliki wadah untuk menyampaikan kritik, tentang persoalan jamaah, persoalaan sehari-hari di web site www.masjidalfath.com yang diawaki oleh Zainudin Asnawi. (Hartono Rakiman)

DISKUSI JURNALISTIK

Situasi masjid, jalan kompleks yang kotor, perumahan yang gersang, pencurian,
narkoba yang masuk kompleks, pemabuk di pinggir jalan adalah fenomena
yang seringkali ada di sekeliling kita.

Siapa saja boleh memberikan kontribusi dengan mengirimkan berita/ gambar
tentang situasi tersebut.

Bukankah kepedulian atas lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama??
Bagaimanakah cara membuat supaya kritikan kita bijaksana dan bukan
sekedar mencela orang atau pihak lain?

Ikuti DISKUSI JURNALISTIK :
– citizen journalism “PEDULI ITU ASYIK” bersama
Bapak Wahyu Utomo- Redaktur Ekonomi Harian Jurnal Nasional, pada :

» Ahad, 25 September 2011
» Pukul 08.30 sampai dzuhur.
» Di Masjid Alfath vila nusa indah 3 KE-KH Bojong Kulur Gunung Putri
» Infak. Rp. 10.000,-
» Segmen : UMUM

Juga akan diberikan sekilas info adab- adab dalam membuat berita untuk
mengkritik secara Islami, oleh Ust Zaenal Arif (Ketua Yayasan Al Fath alMubin)

Ikutan yuks…

Informasi & Pendaftaran :

–Utami Irga—
02192557895

Penyelenggara ;
Komunitas Ikat Makna (KIM) -Masjid Alfath

Selasa, 2 November 2010 | 03:19 WIB KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Grup Acapella Mataraman melantunkan lagu-lagu secara acapella pada acara Gita Duka untuk Ki Hajar Dewantara di Toko Buku Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Yogyakarta, Minggu (2/5). Selain untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional, acara tersebut juga untuk mengkritisi kualitas pendidikan di Indonesia yang dinilai memburuk.

Menjadi penulis seperti Dewi Lestari, Djenar Maesa Ayu, Ayu Utami, atau yang sedang naik daun, seperti Raditya Dika dan Sita Karina, bisa jadi impian bagi sebagian dari kita. Kita pengin menjadi penulis yang karyanya dibaca banyak orang. ak perlu khawatir tak bisa menulis. Sebab, belakangan ini banyak muncul ”penulis dadakan”, yakni mereka yang mau menulis di mana saja, di blog, jurnal pribadi, hingga catatan di halaman akun Facebook. Namun, meski punya banyak karya, tak semua bisa menerbitkan karya mereka menjadi sebuah buku. Banyak alasannya, tetapi rata-rata karena tak tahu bagaimana cara menembus ”birokrasi” yang ditetapkan penerbit buku.

Chintya Bamby, mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM), misalnya, sejak tahun lalu sudah berusaha menawarkan novel karyanya ke sebuah penerbit besar. Ia meninggalkan karyanya beserta alamat dan nomor telepon untuk memudahkan pihak penerbit. Hingga tahun 2010 tak ada kabar gembira yang dia tunggu-tunggu. Akhirnya, Bamby, panggilannya, nekat menerbitkan novel karyanya itu di halaman akun Facebook miliknya, tanpa rasa khawatir karyanya akan dijiplak atau diambil orang. ”Baru setelah diingatkan teman bahwa karyaku bisa diambil orang, aku hapus,” katanya. Bamby tidak kecewa. Semangatnya untuk menembus penerbit besar itu terus berkobar. Kini, sudah dua karyanya yang hampir selesai. Dia sedang mencari jalan untuk kembali menembus penerbit besar idamannya.

Jalur indie belum bisa dia jajal karena keterbatasan modal. Menembus penerbit Christina M Udiani dari Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) menuturkan, naskah yang diterbitkan KPG harus memenuhi dua syarat utama, yakni bagus secara redaksional dan berpotensi diterima pasar. Bagus secara redaksional, tentunya naskah tersebut harus sesuai dengan misi penerbit. KPG menaruh perhatian pada tema sains dan humaniora. Untuk fiksi, diharapkan naskah yang masuk bisa menghibur pembaca karena menunjukkan batas-batas terluar sisi kemanusiaan kita. Kedua, naskah dikemas secara populer. Itu sebabnya KPG menerbitkan naskah bergambar, komik, dan kartun agar persoalan pelik jadi mudah dipahami. Bila naskah teks (tidak bergambar), teks itu harus terbaca dan jelas. Setelah itu, syarat berikutnya adalah naskah seyogianya berpeluang diterima pasar.

Agar sebuah naskah bisa terbit, Candra Gautama, Redaktur KPG, menambahkan, yang terutama adalah mutu naskah itu sendiri, baik fiksi maupun nonfiksi. Naskah bisa dikirim kepada redaksi penerbit dalam bentuk soft copy lewat e-mail atau hard copy. Redaksi akan menilai apakah satu naskah layak atau tidak untuk diterbitkan. Jika ditolak, redaksi akan memaparkan alasan mengapa naskah ditolak. Jawaban biasanya via e-mail. Nah, di antara kedua kategori tersebut, biasanya terdapat naskah menarik, tetapi penulisannya jelek. Untuk naskah semacam ini, redaksi penerbitan lalu menjadi mitra diskusi penulis. ”Redaksi akan mengatakan oke, naskah Anda bisa diterbitkan asal bagian ini-itu ditambah, dibuang, atau diperbaiki. Si penulis sendiri yang memperbaiki naskahnya. Naskah kategori ini bisa bolak-balik perbaikannya antara penulis-editor,” kata Candra Gautama.

Menerbitkan sendiri Jika kita enggak mau ribet dengan persyaratan yang diajukan penerbit, kita bisa menerbitkan buku kita sendiri. Sekarang ini penerbitan indie sudah banyak dilakukan. Contohnya, Andrei Budiman, mahasiswa Akademi Komunikasi Indonesia Yogyakarta, yang menerbitkan sendiri novelnya, Travellous, juga traveller Nancy Margaretha dengan bukunya Backpacking Modal Jempol-Jelajah Eropa Rp 500.000-an per Bulan, dan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) Hartono Rakiman lewat bukunya Mabuk Dolar di Kapal Pesiar.

Andrei menerbitkan bukunya secara indie karena menginginkan kebebasan dalam menulis. ”Kita tidak perlu berkompromi dengan editor penerbitan besar, misalnya untuk pemotongan kalimat, atau bisa terjadi perubahan ide yang cenderung mengubah esensi cerita. Perubahan seperti itu biasanya dilakukan editor untuk kepentingan pasar, juga visi dan misi penerbitan mereka,” katanya. Hal lain yang mendasari Andrei adalah keinginannya memiliki penerbitan buku sendiri. Ini saking cintanya dia pada dunia tulis-menulis.

Naskah Hartono Rakiman sudah ditulis sejak lama dalam buku hariannya. Sekian tahun kemudian, saat dunia memasuki era web 2.0, ia menulis ulang catatan harian itu pada blog dan mendapat sambutan hangat dari pembaca. Ia pun berminat membukukannya. ”Pada awalnya saya mengalami godaan untuk menyerahkan tulisan itu kepada penerbit besar. Jika diterima dan diterbitkan, sudah terbayang nama besar yang akan saya terima. Label itu penting. Ketika sebuah label besar menempel, otomatis nama saya ikut terangkat. Tapi niat itu surut saat saya tahu bahwa royalti bagi penulis buku sangat kecil,” ucap Hartono. Kebetulan ia punya banyak teman yang tergabung dalam komunitas Rumah Baca dan komunitas Ikat Makna. Mereka mendukung dia untuk menerbitkan sendiri bukunya. Ia juga mendapat bantuan untuk tata letak naskah, desain sampul, editing buku, sampai mencari percetakan yang murah. Maka lahirlah buku karyanya.

Nancy Margaretha punya cerita lain. Sebelum naskah selesai ditulis, ia sudah ditawari penerbit untuk menerbitkan bukunya. ”Saya punya alasan yang cukup egois untuk menerbitkan buku sendiri. Selama ini saya membagikan tulisan secara cuma-cuma untuk publik. Ketika ada ide untuk mengomersialkannya, justru pada saat itu perang idealisme terjadi. Saya jadi tahu kalau ternyata tulisan saya ’dikonsumsi’ bukan karena diberikan secara gratis, tetapi memang dibutuhkan,” ucapnya. Dengan menerbitkan karya sendiri, membuat publik makin kenal dirinya secara utuh. Penerbitan indie menjadi alternatif karena ada hal baru dan tidak biasa yang bisa mereka nikmati. Hal yang menarik, Nancy mengaku belajar amat banyak. ”Karena memulai sesuatu dari nol, saya belajar desain, tata letak buku sampai tata cetak, supaya saya puas ketika buku dilepas ke pasar. Itu pun tak membuat saya puas. Kritik dari pembaca makin membuat saya termotivasi,” katanya. Ayo, segera terbitkan buku karya kita sendiri! (DOE/LOK)

Link: http://cetak.kompas.com/read/2010/11/02/03192044/menerbitkan.buku.karya.sendiri

BEDAH NOVEL PLUS PLUS

Bedah Novel Plus Plus…. EXISTERE (novel berlatar belakang hiruk pikuk pelacuran di Dolly) bareng Sinta Yudisia.

SABTU, 4 DESEMBER 2010, JAM 09.00, ATRIUM PLAZA PENDIDIKAN INDONESIA CERDAS, KAPAS KRAMPUNG PLAZA SURABAYA.

Plus Talkshow “Hak-hak Perempuan” dan “Pro Kontra Isu Penutupan Dolly” bersama PSK dan Aktifis Perempuan.

Plus Art Performance by Over Noice Percussion dan Teater Bungkam

Plus Doorprize menarik.

Tiket >> Rp 25,000 (goody bag & snack).
>> Rp 65,000 (Novel EXISTERE plus tanda tangan eksklusif Sinta Yudisia, goody bag & snack)

So what you waiting for… Buruan ikut !! Ke inbox Boutiqqta-Diah Arie Setiawati atau email diaharies@gmail.com cc : prita_hw@yahoo.com. Bisa juga sms ke 0818.08930.876

Pembayaran tiket bisa transfer ke :
BNI No. Rek 0054340353 a/n. M. Hanifa Rushadi

Setelah transfer, bisa konfirmasi via SMS ke 081808930876 atau bukti transfer diemail ke : diaharies@gmail.com cc : prita_hw@yahoo.com
Setelah itu, tiket akan kami email, & bisa langsung diprint sendiri.

Atau dateng & beli langsung di TBM@MALL SURABAYA MEMBACA, PPIC KAPAS KRAMPUNG PLAZA SURABAYA.

SUPPORTED BY :
JAWA POS, MEDIA TEMPRINA JAWA POS GROUP, JP BOOKS, LPPH, KOSMONITA FM, PPIC, KAZA

ORGANIZED BY :
TBM@MALL, INSAN BACA

Alhamdulillah bulan Oktober-November ini ada tiga KIMers yang berhasil menerbitkan bukunya, baik sendiri maupun bersama-sama (antologi).

Selamat tuk Pak Hartono Rakiman, Diah Arie Setiawati dan Shine Fikri (Nuraeni).

Ayoo KIMers yang lain…semangaaattsss & segera menyusul yak

Naskah Lovely Lebaran Yang Lolos.

TAFAKKUR

Oleh : Hartoyo Darmawan

Sahabat..

Kita sering menyadari..

Kita pun sering alpa..

Akan ungkapan syukur..

Akan ucapan zikir..

Sahabat..

Setiap detik adalah rizki..

Tiap saat adalah waktu ajal kita..

Ketika mata menjadi buta..

Ketika kaki melangkah asal..

Ketika tangan berlaku sembarang..

Ketika hati berniat ingkar..

Ketika pikiran melintasi kezaliman..

Di mana kebaikan terselip…?

Di mana butiran nurani tersimpan..?

Kadang logika dikalahkan nafsu..

Kadang logika tergerus ego..

Demi setumpuk pengakuan semu..

Demi segepok sanjungan kosong..

Demi seucap pujian mimpi..

Sahabat…

Saat kita berpijak untuk kesekian kali..

Berharaplah Malaikat kebaikan tidak pergi..

Saat diri beripijak untuk kesekian kali..

Berharap bisa kita temukan taman surga disini

The Holy Heal

Dalam suasana bulan Ramadan, alangkah baiknya kalau kita memperbanyak bacaan yang mampu mempertebal iman sekaligus menambah pengetahuan kita. Saya mendapat buku terjemahan ini dari seorang sahabat yang sekaligus editor buku tersebut. Buku ini telah beredar luas di toko buku terkemuka di tanah air.

Membaca buku “The Holy Heals” (Kalim: 2010), yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia secara bagus, saya menangkap kesan bahwa buku kecil ini berupaya untuk menjelaskan secara  ilmiah fenomena suara sebagai terapi bagi kesehatan manusia. Buku ini terbagi dalam 28 bab yang secara runtut menjelaskan hakikat terapi suara, berbagai eksperimen ilmiah, hingga terapi praktis lantunan Al Qur’an, salat, puasa, sedekah, hingga terapi kasih sayang.

Buku ini mengupas kekuatan suara atau lantunan ayat-ayat Al Qu’ran sebagai kekuatan penyembuh. Melalui berbagai penelitian ilmiah ditemukan fakta menarik bahwa suara, gelombang, frekuensi, memiliki pengaruh pada sel, jaringan, dan organ tubuh manusia. Lantuan ayat-ayat suci Al Qur’an ternyata mampu menghasilkan gelombang dan frekuensi terbaik yang berpengaruh positif pada sel dan atom dalam tubuh manusia. Yang semula tidak normal kembali menjadi normal. Sel-sel yang normal akan berpengaruh pada fungsi jaringan. Jaringan yang sehat akan menentukan tingkat kesehatan organ hati, otak, jantung, dll. Ayat-ayat suci tersebut seolah-olah telah dirancang oleh Allah SWT untuk “mereparasi” segala kerusakan internal dalam tubuh manusia. Itu artinya manusia merespon gelombang atau frekuensi suara. Tak peduli, meskipun seseorang tersebut menderita tuli. Sama halnya ketika kita tertidur, satu-satunya indera yang masih aktif bekerja adalah telinga. Ketika kita tertidur, kita masih bisa merespon suara melalui mimpi.

Dalam penelitian serupa dengan suara, Masaro Emoto melakukan penelitian tapi dengan obyek air. Ternyata air juga dapat merespon gelombang suara. Melalui sebuah penelitian dengan alat bantu kamera khusus, Masaro Emoto sanggup memotret air yang ternyata memiliki bentuk dasar. Jika air mendapat kiriman suara positif, air  akan membentuk kristal, sebaliknya air yang  mendapat kiriman suara jelek akan berubah bentuk menjadi “monster”  mengerikan apabila difoto dengan kamera khusus.

Jika demikian halnya, saya justru menjadi khawatir dengan padatnya polusi suara yang akhir-akhir ini diciptakan manusia moderen, seperti suara TV, HP, radio, alarm, klakson mobil, musik keras, iklan obat di pasar, teriakan para demonstran, dll. Jangan-jangan suara-suara itu telah merusak sistem tubuh kita. Suara-suara negatif itu telah menggiring kita menjadi manusia emosional, serakah, liar, korup, mengumbar hawa nafsu, dan berbagai sifat buruk lainnya.

Buku ini kembali menegaskan keunggulan khasanah dunia Islam (Al Qur’an) sebagai referensi kajian ilmiah dari ilmu pengetahuan barat. Kalau mau jujur, kajian atau penelitian ilmiah yang dilakukan oleh bangsa barat sebenarnya tidak lebih dari menegasakan kebenaran Al Qur’an itu sendiri. Salah satu contohnya adalah soal kekuatan gelombang suara itu.

Review oleh Hartono pengasuh Rumah Baca

Diambil dari RUMAH BACA untuk KOMUNTAS IKAT MAKNA

LIBURAN JIWA

Oleh : Ali Reza

Pastikan kamu tersenyum ketika membaca tulisan ini. Boleh jadi ada diantara kamu yang sedang kesusahan; entah itu sedang tidak punya duit, baru putus dari pacar atau kesal karena download file yang terlalu lama. Senyumlah. Saya tersenyum ketika menulis ini karena saya juga berharap pembaca saya tersenyum saat membaca tulisan ini. Dan untuk kita yang berada dalam rutinitas, untuk kita yang menunggu hari libur, senyum adalah sesuatu yang menghibur. Sebut saja senyum itu sebagai liburan lima detik. Lima detik yang cukup untuk menggerakkan otot-otot wajah dan mengendurkan syaraf kita. Bukankah menyenangkan memiliki liburan sendiri di hari yang sibuk.

Dan bicara tentang liburan, dimanakah tempat liburan yang paling menyenangkan? Ah, tapi tidak selamanya liburan tidak musti pergi ke tempat yang mengeluarkan biaya yang besar. Liburan terbaik adalah jika kita mendapat ketenangan fisik, pikiran dan jiwa. Bagi saya liburan adalah mendengarkan lagu “I Guess That’s Why They I Call It Blues” atau menonton film yang memberi semangat bekerja seperti “The Shawsank Redemption” atau membaca buku seperti “To Kill A Mockingbird”.

Menghadirkan liburan dalam rutinitas kita itulah liburan yang sebenarnya, dan diperlukan usaha untuk menciptakannya. Dengan merubah kebiasaan kita dalam menghadapi rutinitas akan menciptakan liburan yang menyenangkan. Cobalah datang ke kantor lebih pagi dan bernyanyi dengan suara sedang. Biarkan teman-teman kantor kamu mengejek suara kamu. Tentunya kamu bisa memastikan bahwa mereka tidak sebahagia kamu. Tersenyumlah. Tersenyum karena bersyukur kamu dilahirkan di dunia ini. Kerjakan pekerjaan kamu dua kali lebih cepat. Teriakkan kalau kamu cinta diri kamu. Sebut nama orang yang kamu cintai meski orang itu tidak mencintai kamu dan tersenyumlah pada bayangannya. Menulislah. Menulis tanpa alasan yang jelas kecuali mengungkapkan kebahagiaan kamu dalam tulisan itu. Mungkin kamu tidak akan menyangka kamu bisa menyelesaikan sebuah tulisan.

Namun ada beberapa hal yang membuat kita kehilangan liburan kita. Satu diantaranya adalah kita selalu mengkhawatirkan masa depan kita dan pikiran kita sering terjebak di dalamnya. Diri kita ada di masa sekarang, tapi pikiran kita terbawa jauh ke masa depan. Mari kita berpikir positif terhadap semua masalah kita karena sesungguhnya pemecahaan semua persoalan ada di masa sekarang. Tindakan kita saat inilah yang menentukan hasilnya di masa mendatang. Berlibur bukan berarti menghindari masalah. Dengan berlibur berarti kita akan lebih optimis menghadapi masalah. Liburan bukan berarti membuang waktu, karena dengan berlibur kita menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda. Seperti yang saya katakan bahwa liburan terbaik adalah jika kita mendapat ketenangan fisik, jiwa dan pikiran. Setelah kita mendapat ketenangan tersebut maka kita harus menggiatkannya kembali dengan kegiatan yang positif. Fisik mendapat olahraga dan makanan yang terbaik. Pikiran pun penuh dengan optimisme. Dan jiwa akan selalu mendapat siraman rohani sehingga keyakinan kita pada Tuhan semakin kuat.

Pada akhirnya, setelah kamu mendapat liburan kamu dan setelah kamu menjadi orang berbahagia di dunia, kamu bisa melengkapi kebahagian kamu dengan membaginya pada teman kamu. Teman kamu berhak mendapat liburan dari kamu karena kamu juga sering mendapat liburan darinya. Bukankah menyenangkan melihat orang lain bahagia? Ya, terlebih mereka bahagia karena kita. Dan untuk memulainya, maka tersenyumlah.

Meremas Isak

Cerpen Eka Satria Taroesmantini

Rindu pada kelebat masa kanak-kanak begitu membubung. Mungkin menggelembung, nyaris tak kuat menahan sesaknya. Hampir meledak. Untung saja tidak. Aku masih mencoba mencari-cari alasan untuk berdiam, meski limbung. Menikam jejak, aku tak akan sanggup. Sesudut palung hatiku masih menabung harap. Aku pucat.
Kelebat itu datang memohon. Setelah sepuluh tahun, kini. Pintanya, aku harus pulang memungut hari-hari yang tercecer sia-sia. Aku tak sebiadab persangkaanmu, rajuknya di helai surat yang dititipkan lewat temannya. Hampir aku menyerah. Tapi tidak mungkin, sedang aku masih berbenam diri dengan gemerutuk dendam dan kecewa seperti virus yang tak kunjung ditemukan obatnya.
Ketika selepas pengumuman kelulusan belum sehari kami nikmati, Zul, lelaki yang membingkai masa kanak-kanakku, datang ke rumah, sore itu. Aku akan menyambutnya dengan teriakan atau guyonan atau cubitan bertubi-tubi di punggungnya bila saja ia datang sendiri seperti biasanya. Tapi sore itu aku mendadak bersiberai keringat, ia datang dengan serombongan orang berpakaian lengkap: jas dan kebaya. Beberapa perempuan paro baya menenteng kue-kue. Uff! Seperti hendak melakukan prosesi lamaran saja.
Tetapi Ibu membenarkan dugaanku. Mereka datang hendak melamar. Tetapi siapa yang akan dilamar di rumah kami? “Ikuti saja acaranya!” kata Ibu. O, pantas saja Bapak dan ibu dari selepas ashar kulihat sudah rapi. Bapak memakai jas simpanannya, juga peci yang tampak masih bagus meski sudah seumur Rojak, adikku yang sudah kelas empat SD. Jas dan peci itu seakan memberitahu betapa jauh susut tubuh Bapak dalam sepuluh tahun. Wajah bapak memberitahukan ketidaknyamanannya dengan jas dan peci itu. Ibu terlihat lebih muda dengan kebaya kuning gadingnya. Di beberapa bagian pinggir kebaya Ibu jelas terlihat benang jahitannya meluncur dari jalurnya. Tetapi kenapa tak memberi tahu apa-apa soal ini padaku? Lalu siapa kembang ayu yang hendak dipetik para tamu itu? Aha, sudah pasti Kak Nay, kakak tercantikku yang masih berkutat dengan kuliahnya di Bogor itu. Empat adikku masih SD dan Dina SMP kelas dua. Dan aku baru sehari menyelesaikan sekolah. Jadi bukan kami sasarannya.
Aku mengedip nakal pada Zul, disambung juluran lidah dan cubitan. Ibu malah mendelik marah menyaksikan tingkahku. Ah, Ibu seperti lupa kalau Aku dan Zul adalah dua sahabat yang sudah terekat semenjak kami masih ingusan. Sialnya Zul tak merespon dengan cara yang sama seperti lazimnya. Serius amat! Aku jengkel saat itu sambil berjanji dalam hati hendak melakukan cubitan yang lebih menyakitkan padanya. Awas!
Aku sempat was-was bahwa lelaki yang akan meminang Kak Nay itu adalah Zul, sahabat masa kanak-kanakku bahkan sampai menyelesaikan bangku SMA. Sebab dalam rombongan itu hanya Zul seorang yang masih muda, tiga laki-laki lain dalam rombongan itu tak jauh beda perawakannya dengan Ayah Zul. Hmm…, kalau itu benar betapa akan bertambah keras cubitan yang bakal ia terima lantaran merahasiakannya dariku. Diam-diam selenting nada cemburu melintas malu-malu di relung hati.
Tetapi semuanya buyar, dan jantungku berasa pecah, dadaku sesak dan tangis mengiris perih ketika semuanya menjadi jelas. Akulah kembang ayu itu, dan kaulah, Zul lelaki yang hendak memetiknya. Aku terperanjat manakala orangtua Zul mengutarakan maksud kedatangannya. Berkali-kali mataku menyorot wajah orang-orang yang kukenal, bergantian. Ibu merespon dengan tatapan lindap, sementara bapak menerkamku dengan matanya yang berkilat-kilat. Dan, hei! Zul membalas tatapanku dengan tatapan yang belum pernah kurasakan selama pertemanan kami. Apa-apaan ini, heh? Keterlaluan main-main ini. Tetapi Zul membenarkan dengan anggukan kecil. Tubuhku luruh lampai di pelukan Ibu. Mengisak tangis. Dengarlah apa kalimat-kalimat yang Bapak urai di pangkal telingaku, di gelanggang mata orang banyak.
“Fatma, kiranya sudah cukup sampai SMA saja, tak perlu mengikuti kakakmu. Toh, setelah nanti berumah tangga itu sudah sepenuhnya tanggung jawab Zul sebagai suami. Bukan begitu, Pak Tayeb?”
“Saya sudah serahkan usaha huller dan angkot pada Zul. Biar nanti mereka berdualah yang mengelolanya. Ngurusnya tak serumit ngurus perusahaan. Itu pekerjaan mudah!” Suara Pak Tayeb, bapak Zul terdengar jumawa.
“Bagaimana, Nak Zul?” tanya Bapak.
“Saya terserah Bapak dan Ibu Fatma saja.” Itulah jawaban Zul, terdengar seperti lenguhan kerbau bodoh.
Sulit mempercayai Zul mengikuti skenario orangtua kami. Ia terkenal di sekolah sebagai siswa yang kritis dan ketua Osis yang sering berseberangan pendapat dengan Pak Yanuar, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Nyatanya di sini ia tiba-tiba berubah jadi kerbau bodoh.
Aku yang limbung karena bingung masih terisak di bahu ibu. Celakanya semua orang menganggap begitulah perempuan, menyamarkan bahagia dengan sesenggukan tangis. Semuanya mengumbar senyum senang. Seolah baru saja menuntaskan beban berat dari pundak mereka. Hanya Ibu saja mungkin yang paham kecamuk hatiku. Aku tak dapat terima orang-orang memperlakukan diriku seperti sebidang tanah yang hendak dipindahtangankan. Tak pernah ada yang membicarakan perihal ini denganku. Tiba-tiba mereka sudah memutuskan. Seolah aku sebuah benda mati.
Malamnya Ibu mengurai semuanya sejelas-jelasnya, diselingi berkali-kali permintaan maafnya.
Tumpukan hutang keluarga kami pada orangtua Zul, penyebabnya.
Rupanya selama ini pinjaman dari Pak Tayeb, ayah Zul, yang telah membiayai sekolahku dan adik-adikku. Termasuk biaya kuliah Kak Nay. Tidak itu saja, separuh rumah kami ternyata dibangun dengan jutaan rupiah dari laci uang Pak Tayeb. Ia pemilik beberapa huller, belasan angkot dan banyak usaha lainnya, termasuk puluhan hektar sawah. Mujur saja seluruh hutang itu tak dibuntuti dengan rente. Meskipun kaya, ia bukan rentenir tetapi juga bukan orang pelit. Walau tak semua orang diberi pinjaman.
“Pak Tayeb sudah berkali-kali menanyakan perihal hutang kita padanya. Memang dia tak memaksa kita membayarnya segera. Tapi kalau tak dicarikan jalan keluarnya akan semakin berat, Fat. Jumlahnya sudah mendekati seratusan juta.” Kata Ibu mengelus rambutku.
“Lalu membarternya dengan diri Fat?!” kurenggutkan kepala dari tangan ibu.
“Tidak. Bukan begitu Fat….”
“Lalu apa namanya kalau bukan barter?”
“ Zul yang mengusulkan penyelesaian seperti ini.”
“Zul?” Aku tercingangak
“Bapaknya tidak setuju, sebenarnya. Tapi Zul ‘kan anak kesayangannya. Dan Zul juga yang mengatur agar sampai maksud lamaran tadi diutarakan, kamu sengaja tidak diberi tahu.”
“Bu? Zul…..”
“Ia menyukai kamu, sejak lama. Kau, tentu memiliki perasaan yang sama. Sejak dari SD kalian bergaul.”
Entahlah, bagaimana menjelaskan gejolak hatiku. Ketika tahu lelaki yang selama ini diam-diam terpatri di sudut hatiku, ternyata menyimpan gelora yang sama. Ada gemintang menyilau dalam hati. Tapi dengan segala apa yang telah terjadi kini, matahari kemarahan telah membuat semuanya hangus. Mengabu. Mengapa Zul tega bertindak sebegitu menyakitkan? Entah apa menelingkup benaknya hingga istana impian yang ia bangun tega dihargai sebanyak hutang Bapak. Lelaki bodoh macam apa, engkau, Zul? Kau tak pernah belajar dari cerita Siti Nurbaya, rupanya. Atau kau tengah mengikuti cara Datuak Maringgih? Oh, di zaman apa kau hidup, Zul?
Aku tak mengapa melepas kesempatan kuliah, asal dapat segera menyuntingmu. Aku takut, kau jadi menguak rantau seperti jamak dilakukan para gadis di kampung kita, lalu aku bakal kehilanganmu. Begitu kalimat Zul yang lain dalam helai surat yang sama. Ah, mengapa juga masih mengungkapkan kecemasan masa jahiliyahnya. Tidakkah seharusnya ia memikirkan saja masa depannya bersama anak dan istrinya?
Tapi aku sudah mengambil kata putus. Kutinggalkan Singgalang tanpa siapapun tahu. Tidak juga Bapak dan Ibu, sebab aku sudah kepalang kecewa. Bahkan aku tak mau peduli bagaimana gunungan hutang itu bisa terlunasi. Kehormatanku hanya seharga seratusan juta. Meski menurut ibu tak tepat seperti itu simpulanku. Bukankah hutang-hutang itu semuanya demi rumah kami, demi Kak Nay dan kelangsungan sekolah adik-adikku? Ibu coba menghibur dengan mengatakan bahwa itulah yang disebut dengan pengorbanan.
Tapi retak di jiwaku terlanjur meremuk. Dan lelaki itu telah meniupkan limbubu, menuntaskan remuk hingga mengabu. Dianggapnya gunung hutang cukup untuk membeli hidupku dan sim salabim aku sudah ada di genggamannya. Pfuiih!
Lagipula, bagaimana mungkin Bapak dan Ibu lupa bahwa tak patut menurut adat pihak laki-laki datang melamar. Sejak ranah terkembang belum pernah ada orang di kampung kami yang melakukannya. O, apakah memang uang sangat berkuasa meminggirkan tata cara adat?
***
Setelah sepuluh tahun merajuk rantau, aku tak mau melengos lagi masa lalu bahkan aku bersikeras tidak mau tahu bagaimana keadaan Bapak, Ibu dan adik-adikku. Hatiku membatu. Bertumpuk kecewa, mengapa Bapak harus menyandarkan semua masalah keluarga kami pada kekayaan orang tua Zul. Mengapa tak sekalipun Bapak berusaha membicarakan persoalan keluarga dengan kami, anak-anaknya. Membiarkan kami menganggap puluhan petak sawah yang dikelola Bapak adalah milik kami. Teganya Bapak mendustakan keadaan pada kami.
Pupus keinginan mengecap bangku kuliah, kutukar dengan membanting tulang bersama ratusan teman-teman lain di pabrik seberang laut. Aku bersikeras menghilang dari masa lalu. Tapi, ternyata benar kata orang, tak ada tempat untuk sembunyi di bumi. Surat Zul muncul entah dari siapa ia tahu alamatku.
Tanpa kusadari, dua lembar surat itu sudah kusut dalam remasan jariku. Meski belum tuntas kubaca, tapi beberapa kalimat saja sudah cukup menyeret pikiran ke tahun-tahun haru-biru.
Kubuka lagi lembar yang sudah remuk itu.
Kamu masih ingat cita-cita kita, Fat? Membuat pondok kecil di samping Masjid dekat rumahmu, menjadikannya perpustakaan! Andai kau bersedia pulang, kau akan menyaksikan betapa cita-cita ternyata bisa diwujudkan. Aku mengajak teman-teman remaja masjid membangunnya. Dan sekarang setiap hari selalu saja ada yang mengunjungi. Aku sengaja membiarkannya tidak dikunci. Seperti katamu, pustaka yang baik adalah pustaka yang bukunya banyak hilang. Tapi rupanya orang-orang di kampung kita tak berbakat jadi pencuri, walau jadi pencuri ilmu sekali pun.
Ya, dulu kami selalu mengeluhkan masjid di kampung kami tidak memiliki perpustakaan. Buku-buku milik masjid hanya disimpan di lemari yang ada di samping mihrab. Tak ada yang membacanya. Dengan nada bercanda kukatakan pada Zul bahwa cita-cita terbesarku adalah membuat sebuah perpustakaan di samping masjid di kampung kami.
Tapi rasa kecewa dan nelangsa masih terus terpelihara. Mungkin beratus-ratus tahun nanti ia tak akan hilang. Jadi percuma saja cerita tentang pustaka masjid itu. Aku sudah melupakannya sejak lama. Bahkan aku sudah tak ingat lagi bagaimana rasanya berada di masjid. Sudah lama aku tak menyentuh sajadah!
Aku diberitahu bahwa kamu pergi lantaran lamaran itu dikaitkan dengan hutang Bapakmu. Yah, betapa tololnya aku memutuskan cara seperti itu hanya karena ketakutan yang menggunung dalam dadaku bakal kehilanganmu. Tak bermaksud berkelit, aku memang naif bahkan teramat bodoh. Tapi percayalah aku sudah menyimpan keinginan itu sejak lama. Tapi ternyata, sekali lagi, aku amat sangat bodoh, tak mampu bahkan sangat pandir untuk sekedar memberi isyarat.
Hutang itu sudah kami ikhlaskan. Aku masih merasa kau akan pulang, aku masih kuat bertahan untuk tetap berharap. Tapi aku tak mampu membendung kelumpuhan yang mendera Bapakmu, juga penyakit darah rendah yang terus menerus diderita Ibumu. Mereka teramat mencintaimu. Paling tidak sekedar mendengar kabar darimu. Kemana mereka hendak mengalamatkan maaf untuk kekeliruan dan perlakuan mereka padamu?
Lembaran surat itu kembali lumpuh dalam kepalan tanganku. Meremas isak. Basah. Hangat.
*jakarta, mei 07

DALAM berbagai forum diskusi yang membahas tema tentang proses kreatif penulisan puisi yang saya ikuti, baik yang diselenggarakan di Kota Bandung maupun di kota-kota lainnya seperti dalam forum Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) yang diselenggarakan oleh Majalah Sastra Horison bekerjasama dengan Ford Foundation dan forum sejenis lainnya, saya selalu dihadapkan pada pertanyaan yang sama, baik yang ditanyakan oleh seorang siswa, mahasiswa, guru, maupun dosen.

Pertanyaan tersebut adalah, apakah menulis puisi bisa dipejalari? Secara teknis, tentu saja menulis puisi bisa dipelajari sebagaimana kita belajar ilmu bela diri pencak silat. Sedangkan masalah isi dan kualitas puisi yang saya tulis, semua itu sangat bergantung pada “jam terbang” dalam pengertian seluas-luasnya. Berkait dengan itu, memahami apa dan bagaimana bentuk puisi yang akan saya tulis menjadi penting adanya, sebab ia berkait erat dengan apa yang ingin saya ekspresikan dan saya komunikasikan kepada publik, meski benar pada satu sisi ada juga kalangan penyair yang berpendapat bahwa menulis puisi adalah untuk puisi itu sendiri, dan bukan untuk yang lainnya.

Sebelum masuk ke dalam persoalan apa dan bagaimana bentuk-bentuk penulisan puisi yang selama ini saya pelajari, sebaiknya terlebih dahulu saya bahas apa itu puisi. Bahasan yang saya paparkan di bawah ini, merupakan pandangan saya pribadi, yang tentunya pandangan ini pasti berbeda dengan pandangan para penyair lainnya, namun secara esensial apa yang saya paparkan ini mengarah pada muara yang sama, yakni puisi sebagai ekspresi dari berbagai bentuk pengalaman, yang ditulis dengan kalimat singkat dan padat, di mana majas, metafora, dan simbol menjadi salah satu kendaraan dari sekian kendaraan utama yang saya pakai untuk mengekspresikan dan mengomunikasikan pengalaman puitik yang bergejolak di dalam batin saya kepada publik.

Tentang majas, metafora, simbol dan lainnya yang berkait erat dengan gaya bahasa itu – akan dibicarakan pada halaman yang lain, yang contoh-contohnya saya ambil dari para penyair terkemuka di negeri ini, maupun dari para penyair asing lainnya, yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

**

BERKAIT dengan persoalan tersebut di atas, sebuah karya sastra pada dasarnya, termasuk puisi di dalamnya adalah produk dari sebuah kebudayaan, yang sudah berumur panjang dan entah sejak kapan dimulainya. Dalam kebudayaan Sunda, penulisan puisi tradisional bisa dilacak lewat penulisan dangding. Salah seorang penyair Sunda kenamaan pada zamannya yang menulis puisi dalam bentuk dangding itu adalah Penghulu Haji Hasan Mustapa. Sedangkan dalam sastra Indonesia, penulisan puisi tradisional bisa dilacak lewat pantun. Ajip Rosidi menyebut puisi tradisional itu sebagai puisi Nusantara. Dengan demikian maka jelas bahwa menulis puisi dalam kehidupan manusia di Indonesia khususnya, dan di dunia pada umumnya bukan merupakan sebuah kegiatan yang baru. Apa sebab? Karena masing-masing suku bangsa di berbagai belahan dunia mempunyai tradisi penulisan puisi, yang satu sama lainnya berbeda, namun secara esensial mempunyai makna yang sama, yakni berekspresi untuk menyatakan isi hatinya, entah ditujukan kepada Tuhan, alam, kekasih, maupun kepada hal lainnya yang personal sifatnya.

Kekhasan puisi dibandingkan dengan teks yang lain, dalam hal ini dibandingkan dengan penulisan cerita pendek, novel, atau naskah drama, terletak pada rancang-bangunnya. Ketika sebuah puisi ditulis, maka yang diungkap oleh seorang penyair dalam larik-larik puisinya adalah berupa kristalisasi dari pengalaman puitik, dan bukan penguraikan pengalaman puitik sebagaimana yang ditulis orang dalam bentuk cerita pendek, novel, atau naskah drama. Tentang hal ini bisa dibaca pada halaman berikutnya. Bahwa apa yang disebut pengalaman puitik pada satu sisi erat kaitannya dengan fakta-fakta biografis yang dialami oleh seorang penyair saat ia menulis sejumlah puisi, itu memang tidak bisa dibantah. Namun demikian pada sisi yang lain bisa dikatakan dengan tegas bahwa puisi bukanlah semata-mata uraian riwayat hidup sang pengarang secara nyata, melainkan sebuah hasil dunia rekaan yang dibentuk ulang lewat bahasa ungkap yang dikreasinya secara sungguh-sungguh. Dalam konteks inilah saya bisa memahami dengan tegas, apa yang dikatakan Prof. Dr. A. Teeuw maupun Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, bahwa karya sastra, dalam hal ini puisi, merupakan dunia rekaan (fiksionalitas) yang bahan-bahan dasarnya berupa pengalaman puitik yang berdenyut di hati dan pikiran sang penyair. Dan apa yang disebut dengan pengalaman puitik pada sisi yang lain, disebut juga gagasan atau sebuah energi kreatif berupa ilham, apa pun namanya yang menggerakan batin sang penyair untuk menuliskannya di atas kertas.

Jika tadi di awal tulisan disebutkan bahwa secara teknis saya wajib hukumnya mengenal berbagai bentuk pengucapan puisi, karena bahasa ungkap yang diekspresikan dalam puisi imajis sebagaimana yang dikembangkan oleh penyair Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad sangat lain dengan penulisan puisi naratif sebagaimana yang ditulis oleh penyair Rendra dan Taufiq Ismail. Kedua bentuk pengucapan puisi tersebut, tentu saja sangat lain dengan bentuk penulisan puisi simbolik sebagaimana yang dikembangkan oleh almarhum penyair Wing Kardjo, dan Abdul Hadi WM untuk menyebut sejumlah nama sebagai contoh model pengucapan puisi, yang kini tumbuh dan berkembang dengan amat suburnya di negeri ini. Tiga model pengucapan puisi tersebut di atas tentu saja mempunyai perbedaan pula dengan pengucapan puisi mBeling yang digagas oleh penyair Jeihan Sukmantoro dan Remy Sylado. Demikian pula dengan pola pengucapan puisi yang dikembangkan oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri yang berbasis pada mantra sebagai titik pijaknya. Puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang sebagian cenderung gelap itu, adalah termasuk dalam kategori penulisan puisi untuk puisi itu sendiri bukan untuk yang lainnya.

Pendek kata apa yang disebut puisi atau apa itu puisi sungguh banyak ragam dan jenisnya. Bahasa puisi pada satu sisi bisa dikatakan bukan merupakan bahasa yang lugas dan objektif, melainkan bahasa yang berperasaan dan subjektif. Berkait dengan itu, situasi bahasa yang diekspresikan seorang penyair dalam sebuah puisi yang ditulisnya terkesan monolog, baik itu yang digambarkan melalui aku lirik maupun kau lirik. Sementara situasi bahasa yang diungkap dalam penulisan cerita pendek, novel, atau naskah drama cenderung dialog yang dimainkan lewat para tokoh yang direka oleh para sastrawannya. (Soni Farid Maulana)***