Feeds:
Posts
Comments

LIBURAN JIWA

Oleh : Ali Reza

Pastikan kamu tersenyum ketika membaca tulisan ini. Boleh jadi ada diantara kamu yang sedang kesusahan; entah itu sedang tidak punya duit, baru putus dari pacar atau kesal karena download file yang terlalu lama. Senyumlah. Saya tersenyum ketika menulis ini karena saya juga berharap pembaca saya tersenyum saat membaca tulisan ini. Dan untuk kita yang berada dalam rutinitas, untuk kita yang menunggu hari libur, senyum adalah sesuatu yang menghibur. Sebut saja senyum itu sebagai liburan lima detik. Lima detik yang cukup untuk menggerakkan otot-otot wajah dan mengendurkan syaraf kita. Bukankah menyenangkan memiliki liburan sendiri di hari yang sibuk.

Dan bicara tentang liburan, dimanakah tempat liburan yang paling menyenangkan? Ah, tapi tidak selamanya liburan tidak musti pergi ke tempat yang mengeluarkan biaya yang besar. Liburan terbaik adalah jika kita mendapat ketenangan fisik, pikiran dan jiwa. Bagi saya liburan adalah mendengarkan lagu “I Guess That’s Why They I Call It Blues” atau menonton film yang memberi semangat bekerja seperti “The Shawsank Redemption” atau membaca buku seperti “To Kill A Mockingbird”.

Menghadirkan liburan dalam rutinitas kita itulah liburan yang sebenarnya, dan diperlukan usaha untuk menciptakannya. Dengan merubah kebiasaan kita dalam menghadapi rutinitas akan menciptakan liburan yang menyenangkan. Cobalah datang ke kantor lebih pagi dan bernyanyi dengan suara sedang. Biarkan teman-teman kantor kamu mengejek suara kamu. Tentunya kamu bisa memastikan bahwa mereka tidak sebahagia kamu. Tersenyumlah. Tersenyum karena bersyukur kamu dilahirkan di dunia ini. Kerjakan pekerjaan kamu dua kali lebih cepat. Teriakkan kalau kamu cinta diri kamu. Sebut nama orang yang kamu cintai meski orang itu tidak mencintai kamu dan tersenyumlah pada bayangannya. Menulislah. Menulis tanpa alasan yang jelas kecuali mengungkapkan kebahagiaan kamu dalam tulisan itu. Mungkin kamu tidak akan menyangka kamu bisa menyelesaikan sebuah tulisan.

Namun ada beberapa hal yang membuat kita kehilangan liburan kita. Satu diantaranya adalah kita selalu mengkhawatirkan masa depan kita dan pikiran kita sering terjebak di dalamnya. Diri kita ada di masa sekarang, tapi pikiran kita terbawa jauh ke masa depan. Mari kita berpikir positif terhadap semua masalah kita karena sesungguhnya pemecahaan semua persoalan ada di masa sekarang. Tindakan kita saat inilah yang menentukan hasilnya di masa mendatang. Berlibur bukan berarti menghindari masalah. Dengan berlibur berarti kita akan lebih optimis menghadapi masalah. Liburan bukan berarti membuang waktu, karena dengan berlibur kita menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda. Seperti yang saya katakan bahwa liburan terbaik adalah jika kita mendapat ketenangan fisik, jiwa dan pikiran. Setelah kita mendapat ketenangan tersebut maka kita harus menggiatkannya kembali dengan kegiatan yang positif. Fisik mendapat olahraga dan makanan yang terbaik. Pikiran pun penuh dengan optimisme. Dan jiwa akan selalu mendapat siraman rohani sehingga keyakinan kita pada Tuhan semakin kuat.

Pada akhirnya, setelah kamu mendapat liburan kamu dan setelah kamu menjadi orang berbahagia di dunia, kamu bisa melengkapi kebahagian kamu dengan membaginya pada teman kamu. Teman kamu berhak mendapat liburan dari kamu karena kamu juga sering mendapat liburan darinya. Bukankah menyenangkan melihat orang lain bahagia? Ya, terlebih mereka bahagia karena kita. Dan untuk memulainya, maka tersenyumlah.

Advertisements

Meremas Isak

Cerpen Eka Satria Taroesmantini

Rindu pada kelebat masa kanak-kanak begitu membubung. Mungkin menggelembung, nyaris tak kuat menahan sesaknya. Hampir meledak. Untung saja tidak. Aku masih mencoba mencari-cari alasan untuk berdiam, meski limbung. Menikam jejak, aku tak akan sanggup. Sesudut palung hatiku masih menabung harap. Aku pucat.
Kelebat itu datang memohon. Setelah sepuluh tahun, kini. Pintanya, aku harus pulang memungut hari-hari yang tercecer sia-sia. Aku tak sebiadab persangkaanmu, rajuknya di helai surat yang dititipkan lewat temannya. Hampir aku menyerah. Tapi tidak mungkin, sedang aku masih berbenam diri dengan gemerutuk dendam dan kecewa seperti virus yang tak kunjung ditemukan obatnya.
Ketika selepas pengumuman kelulusan belum sehari kami nikmati, Zul, lelaki yang membingkai masa kanak-kanakku, datang ke rumah, sore itu. Aku akan menyambutnya dengan teriakan atau guyonan atau cubitan bertubi-tubi di punggungnya bila saja ia datang sendiri seperti biasanya. Tapi sore itu aku mendadak bersiberai keringat, ia datang dengan serombongan orang berpakaian lengkap: jas dan kebaya. Beberapa perempuan paro baya menenteng kue-kue. Uff! Seperti hendak melakukan prosesi lamaran saja.
Tetapi Ibu membenarkan dugaanku. Mereka datang hendak melamar. Tetapi siapa yang akan dilamar di rumah kami? “Ikuti saja acaranya!” kata Ibu. O, pantas saja Bapak dan ibu dari selepas ashar kulihat sudah rapi. Bapak memakai jas simpanannya, juga peci yang tampak masih bagus meski sudah seumur Rojak, adikku yang sudah kelas empat SD. Jas dan peci itu seakan memberitahu betapa jauh susut tubuh Bapak dalam sepuluh tahun. Wajah bapak memberitahukan ketidaknyamanannya dengan jas dan peci itu. Ibu terlihat lebih muda dengan kebaya kuning gadingnya. Di beberapa bagian pinggir kebaya Ibu jelas terlihat benang jahitannya meluncur dari jalurnya. Tetapi kenapa tak memberi tahu apa-apa soal ini padaku? Lalu siapa kembang ayu yang hendak dipetik para tamu itu? Aha, sudah pasti Kak Nay, kakak tercantikku yang masih berkutat dengan kuliahnya di Bogor itu. Empat adikku masih SD dan Dina SMP kelas dua. Dan aku baru sehari menyelesaikan sekolah. Jadi bukan kami sasarannya.
Aku mengedip nakal pada Zul, disambung juluran lidah dan cubitan. Ibu malah mendelik marah menyaksikan tingkahku. Ah, Ibu seperti lupa kalau Aku dan Zul adalah dua sahabat yang sudah terekat semenjak kami masih ingusan. Sialnya Zul tak merespon dengan cara yang sama seperti lazimnya. Serius amat! Aku jengkel saat itu sambil berjanji dalam hati hendak melakukan cubitan yang lebih menyakitkan padanya. Awas!
Aku sempat was-was bahwa lelaki yang akan meminang Kak Nay itu adalah Zul, sahabat masa kanak-kanakku bahkan sampai menyelesaikan bangku SMA. Sebab dalam rombongan itu hanya Zul seorang yang masih muda, tiga laki-laki lain dalam rombongan itu tak jauh beda perawakannya dengan Ayah Zul. Hmm…, kalau itu benar betapa akan bertambah keras cubitan yang bakal ia terima lantaran merahasiakannya dariku. Diam-diam selenting nada cemburu melintas malu-malu di relung hati.
Tetapi semuanya buyar, dan jantungku berasa pecah, dadaku sesak dan tangis mengiris perih ketika semuanya menjadi jelas. Akulah kembang ayu itu, dan kaulah, Zul lelaki yang hendak memetiknya. Aku terperanjat manakala orangtua Zul mengutarakan maksud kedatangannya. Berkali-kali mataku menyorot wajah orang-orang yang kukenal, bergantian. Ibu merespon dengan tatapan lindap, sementara bapak menerkamku dengan matanya yang berkilat-kilat. Dan, hei! Zul membalas tatapanku dengan tatapan yang belum pernah kurasakan selama pertemanan kami. Apa-apaan ini, heh? Keterlaluan main-main ini. Tetapi Zul membenarkan dengan anggukan kecil. Tubuhku luruh lampai di pelukan Ibu. Mengisak tangis. Dengarlah apa kalimat-kalimat yang Bapak urai di pangkal telingaku, di gelanggang mata orang banyak.
“Fatma, kiranya sudah cukup sampai SMA saja, tak perlu mengikuti kakakmu. Toh, setelah nanti berumah tangga itu sudah sepenuhnya tanggung jawab Zul sebagai suami. Bukan begitu, Pak Tayeb?”
“Saya sudah serahkan usaha huller dan angkot pada Zul. Biar nanti mereka berdualah yang mengelolanya. Ngurusnya tak serumit ngurus perusahaan. Itu pekerjaan mudah!” Suara Pak Tayeb, bapak Zul terdengar jumawa.
“Bagaimana, Nak Zul?” tanya Bapak.
“Saya terserah Bapak dan Ibu Fatma saja.” Itulah jawaban Zul, terdengar seperti lenguhan kerbau bodoh.
Sulit mempercayai Zul mengikuti skenario orangtua kami. Ia terkenal di sekolah sebagai siswa yang kritis dan ketua Osis yang sering berseberangan pendapat dengan Pak Yanuar, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Nyatanya di sini ia tiba-tiba berubah jadi kerbau bodoh.
Aku yang limbung karena bingung masih terisak di bahu ibu. Celakanya semua orang menganggap begitulah perempuan, menyamarkan bahagia dengan sesenggukan tangis. Semuanya mengumbar senyum senang. Seolah baru saja menuntaskan beban berat dari pundak mereka. Hanya Ibu saja mungkin yang paham kecamuk hatiku. Aku tak dapat terima orang-orang memperlakukan diriku seperti sebidang tanah yang hendak dipindahtangankan. Tak pernah ada yang membicarakan perihal ini denganku. Tiba-tiba mereka sudah memutuskan. Seolah aku sebuah benda mati.
Malamnya Ibu mengurai semuanya sejelas-jelasnya, diselingi berkali-kali permintaan maafnya.
Tumpukan hutang keluarga kami pada orangtua Zul, penyebabnya.
Rupanya selama ini pinjaman dari Pak Tayeb, ayah Zul, yang telah membiayai sekolahku dan adik-adikku. Termasuk biaya kuliah Kak Nay. Tidak itu saja, separuh rumah kami ternyata dibangun dengan jutaan rupiah dari laci uang Pak Tayeb. Ia pemilik beberapa huller, belasan angkot dan banyak usaha lainnya, termasuk puluhan hektar sawah. Mujur saja seluruh hutang itu tak dibuntuti dengan rente. Meskipun kaya, ia bukan rentenir tetapi juga bukan orang pelit. Walau tak semua orang diberi pinjaman.
“Pak Tayeb sudah berkali-kali menanyakan perihal hutang kita padanya. Memang dia tak memaksa kita membayarnya segera. Tapi kalau tak dicarikan jalan keluarnya akan semakin berat, Fat. Jumlahnya sudah mendekati seratusan juta.” Kata Ibu mengelus rambutku.
“Lalu membarternya dengan diri Fat?!” kurenggutkan kepala dari tangan ibu.
“Tidak. Bukan begitu Fat….”
“Lalu apa namanya kalau bukan barter?”
“ Zul yang mengusulkan penyelesaian seperti ini.”
“Zul?” Aku tercingangak
“Bapaknya tidak setuju, sebenarnya. Tapi Zul ‘kan anak kesayangannya. Dan Zul juga yang mengatur agar sampai maksud lamaran tadi diutarakan, kamu sengaja tidak diberi tahu.”
“Bu? Zul…..”
“Ia menyukai kamu, sejak lama. Kau, tentu memiliki perasaan yang sama. Sejak dari SD kalian bergaul.”
Entahlah, bagaimana menjelaskan gejolak hatiku. Ketika tahu lelaki yang selama ini diam-diam terpatri di sudut hatiku, ternyata menyimpan gelora yang sama. Ada gemintang menyilau dalam hati. Tapi dengan segala apa yang telah terjadi kini, matahari kemarahan telah membuat semuanya hangus. Mengabu. Mengapa Zul tega bertindak sebegitu menyakitkan? Entah apa menelingkup benaknya hingga istana impian yang ia bangun tega dihargai sebanyak hutang Bapak. Lelaki bodoh macam apa, engkau, Zul? Kau tak pernah belajar dari cerita Siti Nurbaya, rupanya. Atau kau tengah mengikuti cara Datuak Maringgih? Oh, di zaman apa kau hidup, Zul?
Aku tak mengapa melepas kesempatan kuliah, asal dapat segera menyuntingmu. Aku takut, kau jadi menguak rantau seperti jamak dilakukan para gadis di kampung kita, lalu aku bakal kehilanganmu. Begitu kalimat Zul yang lain dalam helai surat yang sama. Ah, mengapa juga masih mengungkapkan kecemasan masa jahiliyahnya. Tidakkah seharusnya ia memikirkan saja masa depannya bersama anak dan istrinya?
Tapi aku sudah mengambil kata putus. Kutinggalkan Singgalang tanpa siapapun tahu. Tidak juga Bapak dan Ibu, sebab aku sudah kepalang kecewa. Bahkan aku tak mau peduli bagaimana gunungan hutang itu bisa terlunasi. Kehormatanku hanya seharga seratusan juta. Meski menurut ibu tak tepat seperti itu simpulanku. Bukankah hutang-hutang itu semuanya demi rumah kami, demi Kak Nay dan kelangsungan sekolah adik-adikku? Ibu coba menghibur dengan mengatakan bahwa itulah yang disebut dengan pengorbanan.
Tapi retak di jiwaku terlanjur meremuk. Dan lelaki itu telah meniupkan limbubu, menuntaskan remuk hingga mengabu. Dianggapnya gunung hutang cukup untuk membeli hidupku dan sim salabim aku sudah ada di genggamannya. Pfuiih!
Lagipula, bagaimana mungkin Bapak dan Ibu lupa bahwa tak patut menurut adat pihak laki-laki datang melamar. Sejak ranah terkembang belum pernah ada orang di kampung kami yang melakukannya. O, apakah memang uang sangat berkuasa meminggirkan tata cara adat?
***
Setelah sepuluh tahun merajuk rantau, aku tak mau melengos lagi masa lalu bahkan aku bersikeras tidak mau tahu bagaimana keadaan Bapak, Ibu dan adik-adikku. Hatiku membatu. Bertumpuk kecewa, mengapa Bapak harus menyandarkan semua masalah keluarga kami pada kekayaan orang tua Zul. Mengapa tak sekalipun Bapak berusaha membicarakan persoalan keluarga dengan kami, anak-anaknya. Membiarkan kami menganggap puluhan petak sawah yang dikelola Bapak adalah milik kami. Teganya Bapak mendustakan keadaan pada kami.
Pupus keinginan mengecap bangku kuliah, kutukar dengan membanting tulang bersama ratusan teman-teman lain di pabrik seberang laut. Aku bersikeras menghilang dari masa lalu. Tapi, ternyata benar kata orang, tak ada tempat untuk sembunyi di bumi. Surat Zul muncul entah dari siapa ia tahu alamatku.
Tanpa kusadari, dua lembar surat itu sudah kusut dalam remasan jariku. Meski belum tuntas kubaca, tapi beberapa kalimat saja sudah cukup menyeret pikiran ke tahun-tahun haru-biru.
Kubuka lagi lembar yang sudah remuk itu.
Kamu masih ingat cita-cita kita, Fat? Membuat pondok kecil di samping Masjid dekat rumahmu, menjadikannya perpustakaan! Andai kau bersedia pulang, kau akan menyaksikan betapa cita-cita ternyata bisa diwujudkan. Aku mengajak teman-teman remaja masjid membangunnya. Dan sekarang setiap hari selalu saja ada yang mengunjungi. Aku sengaja membiarkannya tidak dikunci. Seperti katamu, pustaka yang baik adalah pustaka yang bukunya banyak hilang. Tapi rupanya orang-orang di kampung kita tak berbakat jadi pencuri, walau jadi pencuri ilmu sekali pun.
Ya, dulu kami selalu mengeluhkan masjid di kampung kami tidak memiliki perpustakaan. Buku-buku milik masjid hanya disimpan di lemari yang ada di samping mihrab. Tak ada yang membacanya. Dengan nada bercanda kukatakan pada Zul bahwa cita-cita terbesarku adalah membuat sebuah perpustakaan di samping masjid di kampung kami.
Tapi rasa kecewa dan nelangsa masih terus terpelihara. Mungkin beratus-ratus tahun nanti ia tak akan hilang. Jadi percuma saja cerita tentang pustaka masjid itu. Aku sudah melupakannya sejak lama. Bahkan aku sudah tak ingat lagi bagaimana rasanya berada di masjid. Sudah lama aku tak menyentuh sajadah!
Aku diberitahu bahwa kamu pergi lantaran lamaran itu dikaitkan dengan hutang Bapakmu. Yah, betapa tololnya aku memutuskan cara seperti itu hanya karena ketakutan yang menggunung dalam dadaku bakal kehilanganmu. Tak bermaksud berkelit, aku memang naif bahkan teramat bodoh. Tapi percayalah aku sudah menyimpan keinginan itu sejak lama. Tapi ternyata, sekali lagi, aku amat sangat bodoh, tak mampu bahkan sangat pandir untuk sekedar memberi isyarat.
Hutang itu sudah kami ikhlaskan. Aku masih merasa kau akan pulang, aku masih kuat bertahan untuk tetap berharap. Tapi aku tak mampu membendung kelumpuhan yang mendera Bapakmu, juga penyakit darah rendah yang terus menerus diderita Ibumu. Mereka teramat mencintaimu. Paling tidak sekedar mendengar kabar darimu. Kemana mereka hendak mengalamatkan maaf untuk kekeliruan dan perlakuan mereka padamu?
Lembaran surat itu kembali lumpuh dalam kepalan tanganku. Meremas isak. Basah. Hangat.
*jakarta, mei 07

DALAM berbagai forum diskusi yang membahas tema tentang proses kreatif penulisan puisi yang saya ikuti, baik yang diselenggarakan di Kota Bandung maupun di kota-kota lainnya seperti dalam forum Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) yang diselenggarakan oleh Majalah Sastra Horison bekerjasama dengan Ford Foundation dan forum sejenis lainnya, saya selalu dihadapkan pada pertanyaan yang sama, baik yang ditanyakan oleh seorang siswa, mahasiswa, guru, maupun dosen.

Pertanyaan tersebut adalah, apakah menulis puisi bisa dipejalari? Secara teknis, tentu saja menulis puisi bisa dipelajari sebagaimana kita belajar ilmu bela diri pencak silat. Sedangkan masalah isi dan kualitas puisi yang saya tulis, semua itu sangat bergantung pada “jam terbang” dalam pengertian seluas-luasnya. Berkait dengan itu, memahami apa dan bagaimana bentuk puisi yang akan saya tulis menjadi penting adanya, sebab ia berkait erat dengan apa yang ingin saya ekspresikan dan saya komunikasikan kepada publik, meski benar pada satu sisi ada juga kalangan penyair yang berpendapat bahwa menulis puisi adalah untuk puisi itu sendiri, dan bukan untuk yang lainnya.

Sebelum masuk ke dalam persoalan apa dan bagaimana bentuk-bentuk penulisan puisi yang selama ini saya pelajari, sebaiknya terlebih dahulu saya bahas apa itu puisi. Bahasan yang saya paparkan di bawah ini, merupakan pandangan saya pribadi, yang tentunya pandangan ini pasti berbeda dengan pandangan para penyair lainnya, namun secara esensial apa yang saya paparkan ini mengarah pada muara yang sama, yakni puisi sebagai ekspresi dari berbagai bentuk pengalaman, yang ditulis dengan kalimat singkat dan padat, di mana majas, metafora, dan simbol menjadi salah satu kendaraan dari sekian kendaraan utama yang saya pakai untuk mengekspresikan dan mengomunikasikan pengalaman puitik yang bergejolak di dalam batin saya kepada publik.

Tentang majas, metafora, simbol dan lainnya yang berkait erat dengan gaya bahasa itu – akan dibicarakan pada halaman yang lain, yang contoh-contohnya saya ambil dari para penyair terkemuka di negeri ini, maupun dari para penyair asing lainnya, yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

**

BERKAIT dengan persoalan tersebut di atas, sebuah karya sastra pada dasarnya, termasuk puisi di dalamnya adalah produk dari sebuah kebudayaan, yang sudah berumur panjang dan entah sejak kapan dimulainya. Dalam kebudayaan Sunda, penulisan puisi tradisional bisa dilacak lewat penulisan dangding. Salah seorang penyair Sunda kenamaan pada zamannya yang menulis puisi dalam bentuk dangding itu adalah Penghulu Haji Hasan Mustapa. Sedangkan dalam sastra Indonesia, penulisan puisi tradisional bisa dilacak lewat pantun. Ajip Rosidi menyebut puisi tradisional itu sebagai puisi Nusantara. Dengan demikian maka jelas bahwa menulis puisi dalam kehidupan manusia di Indonesia khususnya, dan di dunia pada umumnya bukan merupakan sebuah kegiatan yang baru. Apa sebab? Karena masing-masing suku bangsa di berbagai belahan dunia mempunyai tradisi penulisan puisi, yang satu sama lainnya berbeda, namun secara esensial mempunyai makna yang sama, yakni berekspresi untuk menyatakan isi hatinya, entah ditujukan kepada Tuhan, alam, kekasih, maupun kepada hal lainnya yang personal sifatnya.

Kekhasan puisi dibandingkan dengan teks yang lain, dalam hal ini dibandingkan dengan penulisan cerita pendek, novel, atau naskah drama, terletak pada rancang-bangunnya. Ketika sebuah puisi ditulis, maka yang diungkap oleh seorang penyair dalam larik-larik puisinya adalah berupa kristalisasi dari pengalaman puitik, dan bukan penguraikan pengalaman puitik sebagaimana yang ditulis orang dalam bentuk cerita pendek, novel, atau naskah drama. Tentang hal ini bisa dibaca pada halaman berikutnya. Bahwa apa yang disebut pengalaman puitik pada satu sisi erat kaitannya dengan fakta-fakta biografis yang dialami oleh seorang penyair saat ia menulis sejumlah puisi, itu memang tidak bisa dibantah. Namun demikian pada sisi yang lain bisa dikatakan dengan tegas bahwa puisi bukanlah semata-mata uraian riwayat hidup sang pengarang secara nyata, melainkan sebuah hasil dunia rekaan yang dibentuk ulang lewat bahasa ungkap yang dikreasinya secara sungguh-sungguh. Dalam konteks inilah saya bisa memahami dengan tegas, apa yang dikatakan Prof. Dr. A. Teeuw maupun Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, bahwa karya sastra, dalam hal ini puisi, merupakan dunia rekaan (fiksionalitas) yang bahan-bahan dasarnya berupa pengalaman puitik yang berdenyut di hati dan pikiran sang penyair. Dan apa yang disebut dengan pengalaman puitik pada sisi yang lain, disebut juga gagasan atau sebuah energi kreatif berupa ilham, apa pun namanya yang menggerakan batin sang penyair untuk menuliskannya di atas kertas.

Jika tadi di awal tulisan disebutkan bahwa secara teknis saya wajib hukumnya mengenal berbagai bentuk pengucapan puisi, karena bahasa ungkap yang diekspresikan dalam puisi imajis sebagaimana yang dikembangkan oleh penyair Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad sangat lain dengan penulisan puisi naratif sebagaimana yang ditulis oleh penyair Rendra dan Taufiq Ismail. Kedua bentuk pengucapan puisi tersebut, tentu saja sangat lain dengan bentuk penulisan puisi simbolik sebagaimana yang dikembangkan oleh almarhum penyair Wing Kardjo, dan Abdul Hadi WM untuk menyebut sejumlah nama sebagai contoh model pengucapan puisi, yang kini tumbuh dan berkembang dengan amat suburnya di negeri ini. Tiga model pengucapan puisi tersebut di atas tentu saja mempunyai perbedaan pula dengan pengucapan puisi mBeling yang digagas oleh penyair Jeihan Sukmantoro dan Remy Sylado. Demikian pula dengan pola pengucapan puisi yang dikembangkan oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri yang berbasis pada mantra sebagai titik pijaknya. Puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang sebagian cenderung gelap itu, adalah termasuk dalam kategori penulisan puisi untuk puisi itu sendiri bukan untuk yang lainnya.

Pendek kata apa yang disebut puisi atau apa itu puisi sungguh banyak ragam dan jenisnya. Bahasa puisi pada satu sisi bisa dikatakan bukan merupakan bahasa yang lugas dan objektif, melainkan bahasa yang berperasaan dan subjektif. Berkait dengan itu, situasi bahasa yang diekspresikan seorang penyair dalam sebuah puisi yang ditulisnya terkesan monolog, baik itu yang digambarkan melalui aku lirik maupun kau lirik. Sementara situasi bahasa yang diungkap dalam penulisan cerita pendek, novel, atau naskah drama cenderung dialog yang dimainkan lewat para tokoh yang direka oleh para sastrawannya. (Soni Farid Maulana)***

EXHAUSTED

Terseok-seok kaki ini mengikuti lebarnya langkahmu, dengan deru napas yang turun naik mencoba meraih jejakmu. Ku paksa kaki kecil ini untuk terus berjalan, berlari, walau tak jarang diiringi derai tangis di sela-sela jatuhku. Tak kuhiraukan semua itu, aku hanya ingin menapakkan jejak bersama, beriringan dengan jejakmu. Tapi kau bagaikan pualam di atas kencangnya laju kereta, tak sedikitpun iba di gurat wajahmu, tak bisakah kau berhenti sejenak hanya untuk menengok ke belakang, sekedar untuk melihatku atau ‘tuk memapah raga ini. Tak bisakah kau melambatkan laju mu barang sekejap, agar ku dapat berdiri di sisimu.

Di saat kedua kaki yang telah tertutup perih berhasil menyamai gerak langkahmu, ada sepenggal rasa yang menyelimuti setiap sisi raga dan relung hati, sepenggal rasa yang teramat sangat hingga aku tak bisa lagi mengikuti setiap jengkalmu. Aku hanya bisa terpekur diam di sini, karena beratnya rasa itu….
Kucoba ulurkan tangan ini tapi mengapa kau hanya menatapku tajam bak sebilah pisau yang siap menghujam tubuh lemahku. Tak juga kau sambut tanganku, kiranya sebongkah keangkuhan telah merasukimu dan kembali kau menapakkan kakimu secepat kilat meninggalkanku. Kuangkat raga yang telah tercabik-cabik oleh amarah dan pilu untuk kembali mengikutimu. Kupaksa kedua kakiku yang mulai berdarah untuk tetap menyamai langkah tegapmu.

Tak terasa, jejak langkah ini telah sampai di persimpangan sebuah alur yang sangat panjang. Dengan perih kulihat bayang-bayang langkahmu di ujung sana, di sebuah jalan yang diterangi berjuta kunang-kunang. Indah memang, sangat indah, tapi rasanya aku tak mampu menggapai kemolekan itu bersamamu, bersama arogannya langkahmu.

Tertatih-tatih kaki kecil ini berusaha melewati persimpangan jalan, tapi aku tak juga beranjak. Aku ingin berlari dan menyusul jejakmu, menggandeng tanganmu melewati cahaya kunang-kunang, tapi ragaku hanya bisa bersimpuh di sini. Akhirnya aku harus berdiri di persimpangan ini dan merelakanmu berlari riang diiringi cantiknya cahaya kunang-kunang.

By : diah arie

Tak sedikit waktu yang kuhabiskan untuk memandang …
Tulisan itu masih disana …
Maknanya pun masih tetap melekat di ingatan
Bukan tanpa arti kau tak pernah bisa aku buang ..

Tak ada lagi cacian yang biasa kau kirim
Tak ada lagi pujian yang terlontar, yang selalu membuatku tersenyum
Tak ada lagi pertanyaan memojokan, yang tak pernah ingin aku jawab ..
Tak ada lagi nasihatmu tentang bagaimana aku menjalani hidupku.
Tak ada lagi kata” pedas yang tak pernah ingin kudengar ..

Uh …
Seharusnya aku lega dengan semua ini
Aku tak lagi harus menahan amarah didadaku yang kapan saja bisa meledak
Aku tak lagi harus pura-pura tersenyum mendengar sindiranmu
Tapi ternyata tidak
Terkadang aku merindukanmu … bukan terkadang, tapi seringkali
Yach … seringkali aku merindukan kehadiranmu
Pergimu memang menyakitkan dan kau meninggalkan jejak jelas dihariku

Kau tahu???
Aku harus membereskan kembali kepingan hati yang berantakan karenamu
Aku harus menatanya semuanya kembali, sampai utuh
Aku tak bisa egois dan mengatakan kau tak pernah ada

Kau ada …
Kau bukan khayalan yang hanya bisa kukencani lewat mimpi
Kau bukan khayalan diatas akal sehat
Kau adalah keunggulan harapan diatas pengalaman

Tapi ku tahu satu hal dengan pasti
Kau bukan lagi harapan suci …

oleh Eka Novi

Oleh Ali Reza

Orang-orang datang dan pergi, kerja dan pulang, setiap hari, hidup dalam kegilaan dunia kapitalis. Jika kau hidup di Jakarta maka kau harus bertahan karena orang-orang tidak peduli padamu. Hanya dirimu yang peduli.

“Namaku Ali .. mahasiswa tingkat akhir” kataku, memperkenalkan diri pada seorang pria berpakaian rapih, berdasi merah dengan wangi parfum yang menebar kesejukan di tengah hiruk pikuk kereta. Kupikir orang ini lebih cocok berada di dalam BMW dari pada berdiri dan berdesakan di dalam kereta.

“Aku Roy, kerja di Microsoft” ucap Roy dengan membuat irama pada kata Microsoft

“Microsoft? Kau bercanda?” kataku membuat orang-orang yang mendengarnya melihat ke arah kami. Mana ada pekerja Microsoft naik angkutan umum kalau bukan karyawan baru.

Roy mengangguk dan dia tidak bercanda. Ini hari ketiga dia bekerja untuk Microsoft. Yang sedang dia lakukan di kereta adalah menjajaki angkutan umum menuju kantornya. Dua hari terjebak macet rupanya membuat dia mencoba kereta, namun sialnya sekarang dia harus berhadapan dengan bau keringat dan bau pasar.

“Aku seharusnya mengambil jurusan komputer, politik selalu membuat pusing siapa saja” kataku yang sebenarnya pusingku bukan karena urusan politik melainkan masalah keuangan.

“Tapi semua orang perlu politik .. kan?” Roy mengucapkannya dengan sedikit ragu. Kurasa dia bukan tipe orang yang suka bicara politik. Kacamatanya hanya lensa biasa, mungkin hanya buat gaya ketimbang pelindung debu.

“Ya, semua orang perlu politik” aku juga mengucapkannya dengan ragu seperti keraguanku pada politik di negeri ini.

Kami terdiam beberapa saat, memandang gedung-gedung berlarian, melirik kemacetan di jalan dan berpikir betapa beruntungnya naik kereta. Seluler Roy bernyanyi, dia bergegas mengambil dan mengeluarkan Nokia model usang keluaran empat tahun lalu dari saku celananya.

Aku tidak punya telepon seluler, tetapi aku selalu mengikuti perkembangannya. Kau tahu, dalam setahun Nokia bisa mengeluarkan sepuluh seri terbaru dan tiap harinya mereka merancang model canggih dengan harga lebih murah lima persen dari keluaran terakhir. Aku mencuri dengar pembicaraannya dan aku dapat mengira-ngira dia adalah seorang marketing di Microsoft atau posisi yang berhubungan dengan klien. Tapi Nokia yang dipakainya tidak pantas untuk ditunjukkan di depan klien. Atau mungkin dia punya telepon ekstra yang tidak dipakai di tempat-tempat seperti ini.

Roy mengakhiri percakapan dan kelihatan puas

“Klien” kata Roy, mengarahkan tangannya padaku.

Hei bung, aku sama sekali tidak tertarik dengan model Nokia usangnya yang hanya akan dicari oleh penggemar Nokia miskin dan menjadikannya sebagai koleksi. Tapi aku kenal beberapa orang pengoleksi seluler semua merek dan darinya aku bisa menjual padamu dengan harga lima persen lebih rendah dari toko biasa.

“Kau bisa jadi ahli komputer tanpa belajar di universitas” kata Roy

“O ya? Katakan” kataku antusias

“Yang perlu kaulakukan hanya mempelajari perkembangan komputer terakhir. Kau cari tempat belajar yang terbaik atau kau bisa memulainya dengan belajar sendiri”

Aku mengangguk paham. Sebenarnya pura-pura paham karena kalau yang seperti ini sih aku sudah tahu. Yang kumaksud apakah ada lowongan kerja di Microsoft. Aku tidak tahu banyak tentang komputer, yang kutahu perkembangannya sangat cepat. Google, Microsoft, Apple, IBM, orang-orang yang beruntung dapat kerja di sana. Mungkin hanya mimpi bagi orang sepertiku. Tetapi jika aku boleh bermimpi lebih besar lagi, aku tidak perlu memimpikan kerja di sana. Ya, mengapa tidak memilikinya saja?

Kereta bergerak perlahan, desakan penumpang yang baru masuk memaksa kami menahan diri berpegangan pada bagasi. Kakiku terinjak, dadaku terbentur tangan seorang pria besar hingga membuatku sesak nafas. Roy hampir kehilangan pegangan. Untungnya, kereta berhenti dan membuat kami terdorong ke depan. Hari ini lebih baik dari hari senin, masih ada celah untuk kaki dan aku masih bertahan. Aku kasihan pada Roy, dia seharusnya tidak memakai baju warna putih.

Posisi kami sedikit lebih baik. Roy merapihkan pakaiannya, memeriksa tiap kantong celana dan memastikan tidak ada yang hilang. Aku tersenyum padanya dan kukatakan sebentar lagi akan ada desakan yang lebih buruk dari luar. Dan lihatlah, di stasiun berikutnya orang-orang lebih ramai naik ke dalam kereta, sebagian besar membawa barang dagangan. Aku melihat ketidaknyamanan para wanita tua dan mereka yang membawa bayi. Tidak ada yang memberi mereka tempat duduk atau sedikit memberi ruang yang lebih nyaman. Beberapa penumpang merokok, menambah panas gerbong, membuat penumpang lain terbatuk.

Kereta kembali bergerak, kami sedikit terdorong ke belakang disusul guncangan-guncangan kecil. Orang di belakangku mendorong dan membuat posisi badanku melengkung. Aku menahan beban dengan berpegangan dua tangan pada bagasi. Roy pun mengalami hal yang sama, namun dia belum terbiasa hingga membuat tubuhnya limbung. Dia benar-benar bertahan, keringatnya banyak sekali dan mungkin sedang bersumpah tidak akan naik kereta lagi. Aku salut padanya karena tidak mengeluh. Sayang sekali, orang setampan dia seharusnya bisa lebih menikmati hidup.

Kereta berjalan tenang. Posisi kami berubah berlawanan dengan gaya kereta sehingga ruang menjadi agak lebih lega dan kami mendapat sedikit pasokan udara. Roy melihatku, menggeleng kepala sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya.

“Nanti kau terbiasa” kataku “otot-ototmu akan jadi lebih kuat”

“Sudah berapa lama naik kereta?” tanya Roy

“Lima tahun” jawabku. Lima tahun adalah waktu sejak pertama kali aku kuliah

“Bulan depan aku akan beli mobil”

“O ya?”

“COP, Car Ownership Program. Kantor yang akan membayarnya dan aku disubsidi lima puluh persen”
Andai aku kerja di Microsoft

Aku tidak suka bicara sesuatu yang tidak kukuasai, dan aku juga tidak suka terlalu banyak ditekan pembicaraan orang lain. Aku ingat saat pamanku bilang tentang kuasai pembicaraan maka kau menguasai keadaan.

“Ekonomi kacau. Banyak PHK … demonstrasi” kataku

“Ya”

“Tidak ada pengaruhnya buat kita. Aku hanya sedang melihat reaksi pemimpinnya. Itulah yang kupelajari … karakter dan sikap si pengambil keputusan.”

“Ya”

“Kau pernah perhatikan pemimpin barat mengambil keputusan? Maksudku bukan keputusannya, tapi orangnya. Pernah kauperhatikan?”

“Ya”

“Apa yang kau lihat?”

“Mereka orang-orang hebat, tenang dan sudah direncanakan” Roy berkata dengan percaya diri

“Ya” kataku pelan. Sebenarnya aku bermaksud menjawab tidak. Orang ini terlalu memuja barat

“Ya?”

“Kau benar. Aku tidak membicarakan detail psikologis mereka, tapi semua orang dapat melihatnya”

“Ya”

Lagi-lagi dia berkata ya. “Boleh kutanya sesuatu lagi?” tanyaku

“Ya”

“Apa yang kau lihat dari orang-orang ini?”

Roy memandang berkeliling, kemudian melihat ke arahku

“Maksudmu?”

“Apakah orang-orang di sini jahat?”

“Maksudmu?”

“Kebanyakan orang di sini tidak saling kenal. Aku tidak kenal kau jika tidak ada yang memulai percakapan. Bagaimana kau melihatku andai kau tidak kenal aku?”

“Menurutku kau baik”

“Menurutmu aku baik?”

“Ya”

“Terima kasih”

Kami semakin akrab. Di sisa perjalanan kami membicarakan masalah keluarga dan masa depan. Aku menceritakan mimpiku mempunyai sebuah penerbitan besar dan keinginanku kembali ke kampung. Tetapi Roy bukan pendengar yang baik. Dia lebih banyak mendominasi percakapan, menonjolkan prestasi akademiknya, kampus dan gadis-gadis kampus, perusahaan tekstil pamannya, keponakannya yang menjadi VJ di MTV dan pernah main di filmnya Garin Nugroho. Roy berkata dengan gaya yang menarik hingga membuatku seperti terhipnotis. Aku mengikuti ceritanya seperti melihat sebuah film. Sayangnya pembicaraan kami beberapa kali terpotong panggilan telpon Roy. Aku memerhatikan sejak panggilan pertama dan panggilan-panggilan berikutnya. Kurasa orang yang sama yang menghubunginya.

Di luar, angin kering menerbangkan debu dan daun-daun. Ini musim panas, beberapa jam lagi matahari akan semakin terik, panasnya bisa membakar emosi siapa saja. Orang menjadi mudah tersinggung, kesalahan kecil saja bisa memicu perkelahian. Aku selalu berusaha belajar untuk tenang dan sabar. Paman bilang dua kata itu adalah kunci sukses. Ya, pamanku selalu berkata benar dan dia memang menjadi orang sukses dengan ketenangan dan kesabarannya.

Orang-orang yang turun di pasar memenuhi seperempat gerbong, dan pada saat tiba di stasiun tujuan terasa sekali perbedaannya. Mereka turun bersama kambing-kambing, ayam-ayam dan anak-anak kecil mereka. Kereta jadi lebih lengang dan kami merasa lebih bebas bernafas.

Roy dengan mata coklatnya, dua lengan kokoh, tubuh yang tegap melengkapi ketampanan wajahnya. Kurasa hanya dengan matanya dia bisa menundukkan dunia hiburan. Tetapi dengan memilih Microsoft, Roy dua kali lipat mendapat kesempatan yang baik. Bahasa Jermannya seburuk bahasa Inggrisku, dan dia hanya pamer dengan mengucapkan beberapa kata sedangkan aku hanya tahu sedikit bahasa Jerman.

“Kau berhenti di stasiun berikutnya. Perhatikan papan nama, kau akan tahu kemana arahmu” kataku

“OK. Danke”

Aku menunjuk ke arah stasiun tujuannya sesaat sebelum kereta berhenti. Kutunjukkan jalan mana yang harus dia lalui. Roy seorang yang baik, namun aku butuh lebih dari sekedar pria baik, dan lagipula aku tidak berharap akan berjumpa dengannya lagi. Cukup sekali ini dan ucapkan selamat tinggal.

Roy berjalan diantara tangan-tangan yang menggantung, melewati parade pedagang dan orang-orang tua. Aku melihatnya turun melompat dari kereta bersamaan dengan dua orang wanita tua gemuk. Wajahku kusembunyikan di balik tubuh pria di sebelahku.

Aku masih melihatnya ketika kereta mulai bergerak. Semakin kereta menjauh tidak lagi kulihat Roy. Dan ketika kereta meninggalkan stasiun, kukeluarkan dompet coklat lusuh berisi lima lembar lima ribu rupiah kusam milik Roy. Tidak begitu banyak, namun sangat berharga untukku. Di dalamnya kutemukan sebuah kartu nama seseorang yang bekerja di agensi pencari pemain sinetron dan iklan. Beruntung yang kucopet hanya seorang pembual. Aku tidak tega melihat orang kesusahan terutama diriku sendiri.

Di depan sana sepertinya banyak orang berpakaian necis yang baru pertama kali naik kereta. Mungkin sedikit bantuanku akan menolong mereka menemukan stasiun. Sial! paman menasihatiku agar jangan terlalu banyak bermain di dunia kapitalis.

Aku merasakan getaran dari saku kiri celanaku, kukeluarkan telepon seluler Roy. Terdengar bunyi speaker pecah dan rington kuno, kutekan tombol menjawab, kudekatkan speaker ke telinga. Kudengar seorang wanita bicara, suaranya kasar dan panjang, tetapi aku tidak berkata sepatah kata pun.

“Halo? .. Halo? .. Jono .. jawablah brengsek .. Jawab!”

***

PERJALANAN

Saudariku tampak pucat dan kurus. Namun sebagaimana kebiasaannya, ia tetap membaca Al-Qur’ an…

Jika Engkau mencarinya, pasti akan mendapatinya di tempat shalatnya, sedang rukuk, sujud dan mengangkat kedua tangannya ke atas langit…
Demikianlah setiap pagi dan petang, juga di tengah malam buta, tak pernah berhenti dan tak pernah merasa bosan.

Sementara aku amat gemar membaca majalah-majalah seni dan buku-buku yang berisi cerita-cerita. Saya juga biasa menonton video, sampai aku dikenal sebagai orang yang keranjingan nonton.
Setelah aku mematikan Video Player, setelah selama tiga jam aku menonton berbagai macam film berturut-turut, terdengarlah adzan dari masjid sebelah.

Akupun kembali ke pembaringanku. Wanita itu memanggilku dari arah mushallanya. “Apa yang engkau inginkan wahai Nurah?” Tanyaku. Dengan suara tajam saudariku itu berkata kepadaku: “Janganlah engkau tidur sebelum engkau menunaikan shalat Shubuh!” “Ah, masih tersisa satu jam lagi, yang engkau dengar tadi itu baru adzan pertama … ”

Dengan suaranya yang penuh kasih -demikianlah sikapnya selalu sebelum terserang penyakit parah dan jatuh terbaring di atas kasurnya- saudariku itu kembali memanggil: “Mari sini Hanna, duduklah di sisiku.” Sungguh aku sama sekali tidak dapat menolak permintaannya, yang menunjukkan karakter asli dan kejujurannya … Tidak diragukan lagi, dengan pasrah, kupenuhi panggilannya.

“Apa yang engkau inginkan?” Tanyaku. “Duduklah.” Ujarnya, Akupun duduk. “Apa gerangan yang akan engkau utarakan?” Dengan suara renyah dan merdu, ia berkata:
“Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surah: Ali Imran ayat 85, (yang artinya):
“Masing-masing jiwa akan mati. Sesungguhnya kalian hanya akan dipenuhi ganjaran kalian di hari Kiamat nanti … ”
Dia diam sesaat. Kemudian ia bertanya kepadaku: “Apakah engkau percaya pada kematian?” “Tentu saja aku percaya.” Jawabku. “Apakah engkau percaya bahwa engkau akan dihisab terhadap perbuatan dosa besar maupun kecil…?” “Benar. Tetapi Allah itu Maha Pengampun, dan umur itu juga panjang..” Jawabku.
“Hai saudariku! Tidakkah engkau takut akan mati mendadak? Lihatlah si Hindun yang lebih kecil darimu. la tewas dalam kecelakaan mobil. Juga si Fulanah dan si Fulanah.” Ujarnya. “Kematian tidak mengenal umur, dan tidak dapat diukur dengan umur..” Ujarnya lagi.

Dengan suara ngeri aku menjawab ucapannya di tengah ruang mushallanya yang gelap: “Sesungguhnya aku takut dengan kegelapan, sekarang engkau malah menakut-nakutiku dengan kematian, bagaimana sekarang aku bisa tidur? Aku kira sebelumnya, engkau bersedia untuk bepergian bersamaku dalam liburan ini.”
Tiba-tiba suaranya terisak dan hatikupun terenyuh: “Kemungkinan, pada tahun ini aku akan bepergian jauh, ke negeri lain… Kemungkinan wahai Hanna… Umur itu di tangan Allah… Dan meledaklah tangisnya.

Aku merenung ketika ia terserang penyakit ganas. Para dokter secara berbisik memberitahukan kepada ayahku bahwa penyakitnya itu tidak akan membuatnya bertahan hidup lama. Tetapi siapa gerangan yang memberitahukan hal itu kepadanya? Atau ia memang sudah menanti-nantikan kejadian ini?
“Apa yang sedang engkau fikirkan?” Terdengar suaranya, kali ini begitu keras. “Apakah engkau meyakini bahwa aku menyatakan hal itu karena aku sedang sakit? Tidak sama sekali. Bahkan mungkin umurku bisa lebih panjang dari orang-orang yang sehat. Dan engkau sampai kapan masih bisa hidup? Mungkin dua puluh tahun lagi. Mungkin juga empat puluh tahun lagi. Kemudian apa yang terjadi?” Tangannya tampak bersinar di tengah kegelapan, dan dihentakkan dengan keras.

Tak ada perbedaan antara kita semua. Masing-masing kita pasti akan pergi meninggalkan dunia ini; menuju Surga atau Neraka… Tidakkah engkau menyimak firman Allah dalam Al-Qur’an Surah: Ali Imran ayat: 185, yang artinya:
“Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga maka sungguh ia lelah beruntung?”
Semoga Pagi ini engkau baik-baik saja …
Dengan bergegas aku berjalan meninggalkannya, sementara suaranya mengetuk telingaku: “Semoga Allah memberi petunjuk kepadamu. Jangan lupa shalat.”
Jam delapan pagi, aku mendengar ketukan pintu. Ini bukan waktu kebiasaanku untuk bangun. Terdengar suara tangis dan hiruk pikuk… Apa yang terjadi?
Kondisi Nurah semakin parah. Ayahku segera membawanya ke rumah sakit. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi raaji’un.
Tidak ada tamasya pada tahun ini. Sudah ditakdirkan aku untuk tinggal di rumah saja tahun ini. Pada jam satu waktu Zhuhur, ayahku menelepon dari rumah sakit: “Kalian bisa menjenguknya sekarang, ayo lekas!”
Ibuku memberitahukan, bahwa ucapan ayahku terdengar gelisah dan suaranya juga terdengar berubah … Jubah panjangku kini sudah berada di tanganku ..

Mana sopirnya? Kamipun naik mobil dengan tergesa-gesa. Mana jalan yang biasa kulalui bersama sopirku untuk bertamasya yang biasanya terasa pendek? Kenapa sekarang terasa jauh sekali… , jauuuh sekali?! Mana lagi keramaian yang menyenangkan diriku agar aku bisa menengok ke kiri dan ke kanan? Kenapa sekarang terasa menyebalkan dan menyusahkan?

Ibuku berada di sampingku sedang mendoakan saudariku tersebut. Ia adalah wanita yang shalihah dan taat. Aku tidak pernah melihatnya menyia-nyiakan waktu sedikitpun…

Kami masuk melewati pintu luar rumah sakit… Terdengar suara orang sakit mengaduh. Ada lagi orang yang tertimpa musibah kecelakaan mobil. Ada pula orang yang kedua matanya bolong… Tak diketahui lagi, apakah ia masih penjuduk dunia, atau penduduk akhirat? Sungguh pemandangan yang mengherankan yang belum pernah kusaksikan sebelumnya…

Kami menaiki tangga dengan cepat… Ternyata dia berada di dalam kamar gawat darurat. Saya akan mengantar kalian kepadanya… Perawat meneruskan perkataannya bahwa ia seorang putri yang baik sekali, dan dia menenangkan Ibuku: “Sesungguhnya dia dalam keadaan baik setelah tadi mengalami pingsan… “.

“Dilarang masuk lebih dari satu orang”, demikian tertulis. “Ini kamar gawat darurat.”
Melalui sela-sela beberapa orang dokter dan melalui celah•celah jendela kecil yang terdapat di kamar tersebut, aku melihat dengan kedua mata kepalaku sendiri saudariku Nurah sedang memandang ke arahku, sementara ibu berdiri di sampingnya… Setelah dua menit kemudian, ibuku keluar tanpa bisa menahan air matanya..

Mereka mengizinkanku masuk dan memberi salam kepadanya, dengan syarat, tidak boleh banyak berbicara kepadanya. “Dua menit, sudah cukup untuk saudari.”

“Bagaimana kabarmu wahai Nurah?” tanyaku. Kemarin sore engkau baik-baik saja, apa yang terjadi pada dirimu?! Dia menjawabku setelah terlebih dahulu menekan tanganku. “Alhamdulilllah, aku sekarang baik-baik saja… ” Ujarnya lagi. “Alhamdulillah… tetapi tanganmu dingin?” Tanyaku..

Aku duduk di sisi pembaringannya sambil mengelus-elus betisnya. Namun ia menyingkirkan betisnya dariku… “Maaf, kalau aku mengganggumu… Oh tidak, aku hanya sedang memikirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an, surah: Al-Qiyaamah: 29-30, yang artinya:
“Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau..”

Hendaknya engkau mendoakanku wahai saudariku Hanna, bisa jadi sebentar lagi aku akan menghadapi permulaan alam Akhirat… Perjalananku akan panjang, sementara bekalku amat sedikit…

Air mataku kontan berderai dari kedua belah mataku begitu aku mendengar ucapannya. Aku menangis, tidak lagi sadar di mana aku berada. Kedua mataku terus mengalirkan air mata karena tangisan, sehingga ayahku justru lebih mengkhawatirkan kondisiku daripada Nurah sendiri. Mereka sama sekali tidak terbiasa mendengar tangisan ini dan mengurung diri di kamarku..

Seiring tenggelamnya matahari, di hari yang penuh kedukaan… Muncullah keheningan panjang di rumah kami… Tiba-tiba masuklah saudari sepupu dari pihak ibuku dan saudari sepupu dari pihak ayahku.

Kejadian-kejadian yang sangat cepat… Orang-orang banyak berdatangan. Suara-suara ributpun terdengar bersahutan. Hanya satu yang aku ketahui: Nurah telah meninggal dunia.
Aku tidak dapat lagi membedakan siapa yang datang. Aku juga tidak mengetahui lagi apa yang mereka ucapkan….

Ya Allah. Di mana aku, dan apa yang sedang terjadi? Menangis pun, aku sudah tidak sanggup lagi.
Setelah itu mereka memberitahuku bahwa ayahku menarik tanganku untuk mengucapkan selamat tinggal kepada saudariku, untuk terakhir kalinya. Aku juga sempat menciumnya. Aku hanya ingat satu hal: ketika aku melihatnya ditutupkan, di atas pembaringan maut. Aku ingat akan kata-katanya (yang artinya): “Ketika betis-betis bertautan,” akupun mengerti, bahwa: “semuanya tergiring menuju Rabbmu..”

Aku tidak ingat lagi bahwa aku pernah mengunjungi mushallanya, kecuali pada malam itu saja… Yakni ketika aku teringat, siapa yang menjadi pasanganku di rahim ibuku. Karena kami adalah dua anak kembar. Aku ingat, siapa yang selalu menemaniku dalam kedukaan. Aku ingat, siapa yang selalu menghilangkan kegundahanku. Siapa pula yang mendoakan diriku untuk mendapatkan petunjuk? Siapa pula yang berlinang air matanya sepanjang malam, ketika ia mengajakku berbicara tentang kematian, dan tentang hari hisab. Allah-lah yang menjadi tempat memohon pertolongan.

Inilah hari pertamanya di alam kubur. Ya Allah, berikanlah rahmat kepadanya di dalam kuburnya. Ya Allah berilah dia cahaya di dalam kuburnya.

Ini dia mushaf Al-Qur’annya, dan ini sajadahnya. Ini, ini dan ini lagi. Bahkan ini, ini adalah rok merahnya yang pernah dia nyatakan: akan kusimpan, untuk hari pernikahanku nanti!!
Aku juga ingat, dan akupun menangisi hari-hari yang telah berlalu itu. Aku terus saja menangis dan menangis berkepanjangan. Aku berdoa kepada Allah, agar memberi rahmatNya kepadaku, memberi taubat dan mengampuni diriku. Aku juga berdoa semoga saudariku itu mendapatkan keteguhan dalam kuburnya, sebagaimana juga yang sering menjadi doanya.

Secara tiba-tiba, aku bertanya kepada diriku sendiri: Bagaimana bila yang meninggal dunia adalah diriku? Kemana kira-kira tempat kembaliku? Aku tidak mampu mencari jawaban karena besarnya rasa takut yang mencekam diriku. Meledaklah tangisku dengan keras…

Allahu Akbar, Allahu Akbar. Adzan Shubuh pun berkumandang. Namun betapa merdunya terdengar kali ini.
Aku merasakan ketenangan dan ketentraman. Akupun mengulangi apa yang diucapkan oleh sang muadzin. Aku melipat selimutku dan berdiri tegak untuk melaksanakan shalat Shubuh. Aku shalat, bagaikan orang yang melakukannya untuk terakhir kali, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh saudariku dahulu. Dan ternyata, itu memang shalatnya yang terakhir.

Bila datang waktu sore, aku tidak lagi menunggu waktu pagi. Dan bila datang waktu pagi, aku tidak lagi menunggu waktu sore…

kiriman : Ruly Utama Nugraha
Sumber: Az-Zaman Al-Qaadim